Hujan di Dresden

Posted in gores-gores tinta with tags , , on May 26, 2011 by adindafatiha

Dresden di kala hujan, menyenangkan. Ada rasa tenang menyusup dalam hati saya ketika hujan datang. Terlebih seperti saat ini, saat tadi siang matahari bersinar lumayan terik. Ternyata hujan yang datang berhasil merubah segalanya.

Kedatangannya diawali dengan angin yang mulai sedikit kencang, lalu datang setetes demi setetes air jatuh, untuk kemudian menjadi deraian indah yang diturunkan dari langit. Saya sengaja turun dari kamar di studentenwohnheim sembari menenteng sampah ke depan. Setelah membuang sampah di penampungan tak jauh dari kompleks tempat tinggal saya, sebelum kembali ke gedung, sedikit saya tengadahkan muka, basah air terasa segar. Ya Alloh saya cinta hujanMu.

Kalau pada suatu masa saya mendapati hujan dalam perjalanan, seringkali dengan reflek saya akan memperlambat langkah, sesekali akan menyingkirkan payung yang melindungi tubuh saya, sekedar untuk menyapanya, menyapa hujan, merasakan percikan airnya di wajah saya.

Masih ingat ketika di jogja dulu, saya pasti akan duduk di tepi jendela memandang curahan air di luar sana. Melihat tetes-tetes air mulanya jatuh pada setiap benda yang temuinya, di daun, di genteng rumah tetangga, di teras, di jalanan, di atas jembatan, di mana-mana. Tetes air yang untuk kemudian mengalir bersama tetesan yang lain. Berkumpul, satu tujuan. Tempat yang lebih rendah.  Dari yang mulanya berbeda-beda menjadi sama, satu tujuan, satu muara. Karena mereka sama, satu sifat, satu hakekat.

Saya menyukai hujan, meskipun efek kehujanan kadang menjadikan pilek dan pusing. Tapi itu tak melepas kecintaan saya terhadap kejadian alam satu ini. Bagi saya hujan adalah anugrah, Ia mencabut dari keramaian, membawa saya ke ruang dan waktu, sebuah kesempatan. Ia seperti menghadirkan benteng yang memisahkan dengan dunia sekitar. Menjadikan istimewa. Istimewa dalam kesendirian. Untuk apa?  Bisa jadi untuk berpikir. bernyanyi, sekedar menikmati pemandangan, bermain-main dengan apapun, bisa nyata atau maya. memanjakan indera. Saya tak dapat menjelaskan. Butiran air langit, daunan basah, jalanan sepi, suara binatang, air cucuran atap, semuanya bisa menjadi lain saat kau menikmatinya. Saat saya jadikan mereka lain, dengan kesendirian saya, dengan hujan membersamai kami, saya dan mereka.

Mungkin itu sebab hadir cinta atasnya. Karena saya menyukai kesendirian lalu saya cinta hujan, atau sebaliknya? Hujan menyendirikan saya, dan saya menikmatinya.

*BTW* Pernahkan mengamati rumputan di luar kala hujan ataupun sesaat setelah hujan? Mungkin ini pendapat subjektif, tapi di mata saya, hujan menjadikan mereka menjadi tampak lebih hijau. Efeknya menjadikan kita lebih tenang, menyejukan, menurunkan detak jantung, melancarkan aliran darah dan pernafasan *lebay ya? :-D *

And I’ll be lying here waiting
Hoping lov’ll come my way
(Save it for a rainy day)
But if the sun’s still shinin’
I’ll save it for another day
(Save it for a rainy day)
 
(Rainy day: the coors)
 

Zellescher Weg 41d. musim panas 2011

the attentions

Posted in campur-campur on May 23, 2011 by adindafatiha

There are some  kinds of attentions I’ve been through lately. The first one is a win-win attention. At least I would consider it that way. Because this attention is coming from somebody from my grey area. I call it grey area because it’s confusing, you may call it friends with benefits but in positive way of course. I should feel nothing, demand also nothing. The thing I have to do is to thank. Thanking this this person for the wisdom and willingness to accompany, to share, to argue, to debate, to listen to, to advise, to laugh together for some jokes we’ve shared, etc. I shall thank, and when time come for these things to be over, I shall be relieved and let them go. But surely I do feel, and will feel miss those times.

Second attention is likely to be similar to the first one but it’s from my bro, my unique bro. Nothing I can say about him, just unique and excellent. Clever, great thinker and sometimes stubborn also. But I’m cool with that. That kind of stubbornness comes to the right issues and manage to  show his dignity. May Alloh bless him and his family as well.

Next is an attention that I have never got so far. The memories remain but no actions to maintain. I’m longing for this, but unfortunately wind seems unwilling to stand by my side, it blows, leaving me abandoned, alone with my nearly empty warmted heart. But somehow I stay, I stand for I convince my self, I’m not standing for nothing, I’m standing for something. I keep hold on, keep on breathing. 

Similar to the previous one is my yo-yo attentions. You know yoyo? It’s a kind of toy, sling here and there. You hold the power to controll, wether to slow down or to make it faster, coming to you or away from you. The different with my yo-yo is, that I dont have the power to controll it. I am powerless. I knocked down with a kind of uncommon uniqueness of a mankind. Rather than getting interested in social network (which people are crazy about that), they remain still, calm, and stays in touch with the real ‘silaturahim’. A FaceB**K is less necessary.  Thank god for internet and handy. At least we still have contact until now :-D

Last but least,  a special kind of attention that blows your heart away. No, not because it’s overwhelming you, but for its simplicity.  It ‘ll warm you, fill up with happines, loves and cares.  It traights to the focus, objectives, which is me. Yes. It is my parents’s attention. My father and mother. Their simple love is all I need, when I am down, stucked with no ideas to write, when I feel incomplete. I go to my father to discuss anything in objective matter, for feedback, to track my paths. I go to my mom to get pampered :-D . To be women i guess hahahahaa.

Through all these attentions, I’m thanking Alloh for so much blesses in my life. I don’t know which attention from these would stay much longer than the other. We’ll see.


Kompleks elit, Dua Orang Perempuan, Masjid, dan Masa Kecil

Posted in gores-gores tinta on April 1, 2011 by adindafatiha

Ba’da sholat isya saya malah jadinya chatting dengan Kunto, adik tingkat sma dulu. Padahal niatan awal buka laptop tu rencananya mau nerusin masukin data penelitian lah kok malah ini melenceng ceng ceng :-D .

Si Kunto ini ternyata kenal lingkungan rumah saya. Ada saudara jauhnya yang kebetulan juga tinggal di perumahan elit di dekat kampung saya. Orang bilang daerah itu dulu daerah loji, rumah-rumah mewah bergaya belanda, tentunya milik orang-orang berada. Sampai sekarang juga penghuni perumahan itu masih orang-orang kaya yang melengkapi rumahnya dengan garasi dan carport (eh garasi dan carport itu sama ato beda sih??). Yang jelas hal ini berbeda dengan rumah dan lingkungan saya yang mobil bisa masuk jalanpun sudah alhamdulillah hehehe.

Dulu, duluuu sekali, sewaktu masih kecil, di akhir pekan, bersama teman-teman, saya sering berjalan pagi berkeliling. Biasanya kegiatan ini kami lakukan di hari  ahad. Rutenya dari kampung Blunyah, kompleks elit bangirejo taman itu, jalan monginsidi, SMPN 6, Muhamadiyah 1 terus pulang. Sambil jalan-jalan, kami bawa plastik sebagai wadah bagi bunga-bunga yang kami punguti sepanjang jalan. Jenis bunganya bisa bougenville, bunga bakmi-bakmian, sampai bunga dan buah tanjung di tepi jalan. Terkadang kami tanpa rasa bersalah memetik bunga milik orang, yang sengaja ditanam di pot atau di taman mereka hehehee. Pokoknya polos banget, sumpah. Salah satu korban kami ya rumah-rumah elit di perumahan saudaranya Kunto itu.  Jangan-jangan rumah keluarga dia ikut jadi korban lagi huaaaaaaaaa…. Mohon maaf  bagi yang merasa menanam. Semata-mata itu murni ketidaktahuan kami akan hak milik pribadi perseorangan. Harap maklum :-) Read more »

Tentang bunga

Posted in gores-gores tinta on March 10, 2011 by adindafatiha

Ada yang menggelitik rasa ketika saya untuk pertama kalinya chating dengan teman kuliah yang sama-sama berada di kampung halaman untuk penelitian. Dia di vietnam saya di Indonesia. Teman saya itu setelah basa-basi menanyakan kabar dan adaptasi dengan segala hal tiba-tiba menanyakan sesuatu yang keluar dari tema. Pertanyaannya adalah: Hast du viele Blumen bekommen? Did you get a lot of flowers?

Heh? Blumen? Ach so. Saya jadi teringat pesan terakhir dia (kayak mau apa aja, pesan trakhir) Waktu itu memang jadwal kepulangan saya pas banget tgl 14 februari. Teman saya itu bilang, semoga kau mendapat banyak bunga di tanggal itu, meski terlambat. Dan saya seperti biasanya cuma tersenyum. It’s not a big deal. Saya bilang saya ga pernah dapat bunga. Waduh, malah tambah runyam, dengan emoticon lucu menggambarkan orang terkejut. La emang ga pernah je, jujur to?. Dia bilang, dein Freund muss das tun (pacarmu harus kasih kamu bunga). Kalau mau diterangkan pada dirinya dengan aturan relasi beda jenis kelamin dalam agama saya, pasti akan lama. Simpel saya jawab ga ada. Lalu mulailah dia kembali pada topik yang sama.  Kali ini dengan akhiran sebuah kalimat: Ich wünsche dir schnell ein wirkliche Liebe finden kannst.

Ah dia, saya berterima kasih kepadanya, seorang teman yang penuh perhatian dengan caranya. Cerewet tanda kasih sayang, mungkin bisa dikatakan demikian. Betapa dia ‘rajin’ mengingatkan hakikat menikah bagi seorang perempuan. Kalau pas saya lagi dalam mood bagus, pasti kami akan berdiskusi tentang pernikahan dalam pandangan dia dan bangsanya. Namun kalau sedang bad mood, bawaannya negatif thinking mulu, menganggap kalau perempuan itu cuma dilihat dari breedingnya doang. huh. Tapi alhamdulillah, pikiran-pikiran macam itu tidak bertahan lama. Yakin saja, pastinya ga ada yang punya niat buruknya sama sekali. It’s pure attention.

Pulang

Posted in gores-gores tinta on February 25, 2011 by adindafatiha

Tepat sepuluh hari pulang ke kota tercinta. Rasanya?? huahahaha nano-nano. Kombinasi antara senang,aneh,  kaget, telmi, grogi, terpukul ??? tertekan (karena thesis), dan lain sebagainya.

Tanggal 15 Februari 2011. Turun dari pesawat saya masih menenteng mantel musim dingin. Secara 20 jam yang lalu di bumi belahan lain sana salju turun berderai-derai. Winter masih enggan beranjak sementara hati-hati ini telah bersiap-siap happy menyambut musim semi. Termasuk saya yang sedianya untuk pulang nanti akan memakai baju sekedarnya (baca: tidak berlapis-lapis dan tanpa mantel). Tetapi semua hanya tinggal rencana.  Salju yang mulai turun hari minggu kembali memutihkan bumi dresden. Senin dini hari, jam 3 pagi, terpaksa mantel musim dingin tebal itu saya pakai untuk selanjutnya berjalan mendorong koper ke halte trem terdekat dan pergi ke stasiun dresden. Dari sana dengan kereta api cepat (ICE) saya menuju Frankfurt.  Perjalanan dengan kereta api memakan waktu 5 jam 15 menit, dengan sekali ganti kereta di kota Naumburg dekat Saale. Jujur, aslinya saya tidak begitu menyenangi naik turun kereta seperti itu, terlebih dengan membawa koper gede nan berat, sendirian lagi (!!!!). Berpacu dengan waktu dan jarak dari peron satu ke peron yang lain yang melelahkan. Read more »

what do you do ….

Posted in gores-gores tinta on February 7, 2011 by adindafatiha

What do you get when you fall in love

A guy with a pin to burst your bubble

that’s what you get for all your trouble

I’ll never fall in love again.

 

No, that is not my theme song for today. It’s just the line of it. I love, sounds good in my ears. And I don’t want to talk about love either. Infact it is far far away from that.

WHAT DO YOU ….?

Yes. I underlined this unfinished sentence. You might continue it with verbs such us: do, get, plan, pursue, ect. They tell you about activities. Hey, what is then exactly I am talking about anyway? Confusing, is it? Because originally I just want to tell something. Read more »

Sop kacang merah dkk

Posted in coba-coba di dapur on January 29, 2011 by adindafatiha

Sop ini enak dimakan hangat-hangat di dalam temperatur minus kota Dresden akhir pekan terakhir bulan januari ini. Alhamdulillah, saya pikir rasanya tidak terlalu mengecewakan. Masak sendiri ya dipuji sendiri lah hehehehe.

Membuat sop ini gampang sekali. Tidak njlimet dan tidak saklek. Masukan apa yang kamu suka, apa yang kamu punya. Tentukan rasamu. Begitulah :-D

Kalau ada yang ingin memasak sendiri. Berikut informasinya. Seperti yang sudah disebutkan tadi, It’s all coming up to you. Sumonggo……

Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.